Rabu, 11 Oktober 2023

Indahnya Desa Di Atas Awan "Desa Adat Wae Rebo"


Perjalanan menuju Ruteng dimulai dari Bajawa, saya sewa guide plus motor untuk 2 hari 2 malam dari Bajawa ke Labuan Bajo Rp 600.000. Kita mulai berangkat pagi hari sekitar pukul 9 pagi, selama perjalanan pulau Flores ini memang sungguhlah cantik, dari Bajawa kita merasakan udaranya dingin lalu beberapa jam kemudian akan menemukan laut dan terasa panas, sungguh unik bukan!

Setelah dari Bajawa kita mampir sebentar di Aimere melihat produksi rumahan Moke arak lokal khas Flores. Moke ini bahan baku utamanya adalah buah Lontar, maka tidak aneh kalo sepanjang jalan akan mudah ditemukan pohon lontar dimana-mana.

Kita hanya mampir sebentar lalu melanjutkan perjalanan ke Ruteng, tapi sungguh di luar dugaan kita mengalami kecelakaan kecil, motor tergelincir karna jalan licin akibat oli, tapi semua baik-baik saja, hanya saya yang terluka di bagian lutut dan lengan sementara guide saya tidak terjadi apa pun.. mengsedih plus apes sekali diriku hehehe.

Jalanan Flores yang berliku-liku terkadang cukup membuat pusing tapi pemandangannya tidak diragukan lagi sungguh sangatlah indah di mata, dan terkadang hujan lebat, kabut tebal serasa berjalan di atas awan, sangatlah cantik alam Flores. Setelah mau memasuki perjalanan ke Desa Denge medan jalannya sungguhlah sangat jelek, disaran untuk berhati-hati.

Sekitar perjalanan 10 jam akhirnya kita sampai di Desa Denge Ruteng, kita menginap semalam di home stay pemiliknya bapak Blasius, beliau adalah seorang guru yang kali pertama mengenalkan Desa Adat Wae Rebo ke dunia luar. Beliau bercerita turis pertama yang singgah ke Desa Wae Rebo adalah turis dari Perancis (seingat saya hehe). Biaya menginap semalam sekitar Rp 200.000 sudah termasuk sarapan pada saat itu, sepi hanya saya seorang karna masih suasana pandemik.

View saat perjalanan dari Ruteng ke desa Wae Rebo

Keesokan pagi sekitar pukul 6 pagi kita sudah memulai trekking ke Desa Wae Rebo, dari penginapan kita ke post 1 dengan motor. Dari post 1 sampai ke atas Desa Wae Rebo perjalanan sekitar 2 jam kurang tergantung kecepatan kita berjalan. Medan jalur trekking sangat mudah dan tidak terlalu sulit, sepanjang perjalanan banyak pohon kopi dan kita akan melihat hamparan laut juga, pokoknya dipastikan sangat indah, lelah pun terbayarkan.

Minum kopi Flores di Desa Adat Wae Rebo     

Ketika rumah khas Desa Wae Rebo sudah terlihat jelas dari atas, kita disarankan untuk mengetuk  pentungan atau apa namanya sebagai pertanda bahwa ada tamu datang. Saat menuju memasuki Desa Wae Rebo disarankan untuk tidak merekam atau ambil foto terlebih dahulu bisa dilakukan nanti, sesampai disana kita akan menghadap ke Kepala Adat Desa Wae Rebo sebagai penghormatan lalu kita akan langsung melakukan pembayaran untuk kepala adat/atau iuran apa agak lupa sekitar Rp 50.000 dan biaya penginapan sekitar Rp200.000 sudah termasuk sarapan dan plus kopi khas Flores yang sangat sedap sekali. Oh ya untuk guide saya semua gratis tidak ada biaya tambahan dari pihak desa Wae Rebo.

Ekspresi ketika melihat Desa Wae Rebo untuk kali pertama seperti mimpi, sungguh sangat cantik, warganya pun sangat ramah, sungguh beruntung Indonesia memiliki keberagaman budaya, desa adat, alam, kuliner dll. Sampai sekarang pun masih terus mengagumin keindahan Desa Wae Rebo, desa yang cantik di atas awan.

Total pengeluaran ke Desa Adat Wae Rebo, dari Bajawa ke Labuan Bajo:

  • Sewa motor plus giude  Rp 600.000
  • Home stay di Desa Denge Rp 200.00
  • Desa Wae Rebo Rp 250.000
  • Sewa stick Rp 10.000 optional, awalnya dikira gratis hehe
  • Parkir motor di post 1 Rp 20.000
  • Makan sepanjang perjalanan termasuk buat guide semua tentatip tergantung yang dimakan hehe

Total sekitar Rp  1.080.000 belum termasuk biaya makan di perjalanan, bensin tanggung jawab guide. 

Jalur trekking ke Desa Wae Rebo             
                                                                                                                                     
Bersama Kepala Adat Desa Wae Rebo

View Sepanjang perjalanan dari Desa Wae Rebo ke Labuan Bajo






 





Senin, 13 Maret 2023

Semalam Di Bajawa, Flores NTT

Bajawa merupakan daerah dataran tinggi di Flores, sangat terkenal dengan kopinya sampai ke seantereo dunia. Dari Bajawa nanti bisa lanjut ke Desa adat Wae Rebo, Ruteng, Manggarai. Saat di pertengahan tahun suhu udaranya lebih dingin dikarnakan posisi NTT dekat Australia, jadi angin winter dari Australia terasa sampai di sana.

Banyak sekali yang bisa dilakukan di Bajawa, karena dataran tinggi sudah tentu pasti terdapat gunung berapi. Gunung yang sangat terkenal di Bajawa salah satunya adalah gunung Inierie. Tapi kita bisa menikmati Gunung Ienire dari bukit Wolobobo, sangat indah jika di sore hari, dengan hamparan awan dan bisa terlihat juga lautan dari atas bukit. Biaya masuknya bebas mau kasih berapa, waktu itu saya beri 20 ribu buat berdua.

Selain itu, ada beberapa tempat yang wajib dikunjungi jika di Bajawa, seperti :

  • Bena Traditional Village, merupakan salah satu desa adat yang dilindungi oleh negara, sebenarnya banyak desa adat di Bajawa tapi yang terkenal adalah Desa Bena. 
                        
Bena Traditional Village, Bajawa
  • Manulalu Bajawa, Kafe yang berada di perbukitan dengan view gunung Inierie, menikmati kopi khas Flores dengan view gunung Inierie sungguhlah sangat nikmat, sangat layak dicoba, secangkir kopi hanya 25 ribu.
Secangkir kopi khas Flores dengan view gunung Inierie
  • Bukit Wolobobo, berketinggian sekitar 1700 mdpl, tidak terlalu tinggi tapi sangat dingin karna kiriman angin winter dari Australia. Waktu terbaik berkunjung saat sore sambil menanti sunset, sangat indah sekali. Lokasi di Desa Turekisa, tidak jauh dari pusat kota Bajawa, bisa sewa motor, sangat mudah dicapai, atau kalo ga mau ribet bisa sewa ojek yang bisa sekalian jadi guide selama di Bajawa. Biaya sewa sehari 100 ribu.
Senja di bukit Wolobobo, Bajawa
                                                                    
Masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Bajawa, tapi karna keterbatasan waktu saya hanya berkeliling seharian saja, besok paginya langsung lanjut perjalanan ke Ruteng, Manggarai, khususnya ke Desa Adat Wae Rebo. Dari Bajawa ke Desa Adat Wae Rebo saya sewa ojek yang sama waktu di Bajawa. Saya sewa ojek dari Bajawa, Desa Wae Rebo sampai ke Labuan Bajo kena 600 ribu termasuk bensin, makan saya yang tanggung, perjalanan sekitar 2 hari 2 malam.
                         







Hopping Island Di Riung, Ngada Flores NTT

Riung, Ngada terkenal dengan 17 pulau. Banyak pulau kecil yang cantik di sana, yang paling terkenal ada pulau Rutong. 

Untuk menuju ke Riung bisa dari Ende atau Bajawa dengan jarak tempuh sama. Kondisi jalan saat di awal perjalanan cukup kondusif, jalanan bagus tapi pas sudah agak ke dalam jalanan rusak parah dan berkelok-kelok, bisa bikin muntah saat perjalanan.

Tapi, setelah sampai di Riung semua terbayar dengan keindahan alam lautnya. Riung tidak terlalu luas, 2 hari cukup tinggal di Riung apalagi waktu itu masih PPKM tidak banyak yang bisa dilakukan.

Kita bisa sewa kapal ke nelayan di sana, perkapal 500 ribu, bisa untuk 5 orang dalam satu kapal. Nanti hoping island seperti pulau Kalong dan Rutong. Di Pulau Rutong bisa snorkeling, camping dan bakar ikan, pasir putih yang bersih dan air laut yang bening seperti kristal sangat membuat indah sekali.

Sewa penginapan di sana relatif murah dan banyak pilihan cottage yang fasilitasnya cukup memadai. permalam berkisar 350 ribu bisa untuk berdua. Jika malas mencari sewa kapal sendiri, dari pihak hotel nanti bisa bantu cari dan terkadang mereka jual paket wisata juga.

Riung bisa jadi pilihan jika bertandnag ke Flores, NTT.

Dermaga kapal di Riung, Ngada

Pulau Rutong, Riung, Ngada





Rabu, 08 Maret 2023

Ende, Flores NTT

Kota Ende adalah sebuah ibukota Kabupaten Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini dijuluki Kota Pancasila, yang merupakan Kota Kabupaten terbesar di Pulau Flores berdasarkan jumlah penduduk dalam kota.

Di Ende saya stay 3 malam, semalam dengan orang lokal, 2 malam stay di budget hotel alias oyo, semalam hanya 150rb termasuk sarapan dan dekat ke pusat kota.

Tidak banyak dilakukan di Ende dikarenakan kondisi masih PPKM pada saat itu. Niat awal ingin ke Kelimutu tapi apa daya tutup untuk umum.. sedih sekali rasanya, sudah datang jauh ke ujung Timur Indonesia tapi belum rezeki melihat keindahan gunung Kelimutu.

Selama di Ende saya hanya keliling ke pusat kota singgah ke rumah pengasingan pertama Bung Karno dan sekaligus ke tamannya serta bermain ke pantai di sekitarnya. Pantai di Ende berpasir hitam tidak seperti pantai-pantai di NTT lainnya, dan juga mempunyai batu-batu yang berwarna biru toska ciri khas Ende. Jika hendak keliling kota Ende cukup naek ojek saja, jauh dekat cuma 5.000, setiap ada pemotor yang berhenti tanya saja mau antar ke tempat yang mau dituju. Orang Ende sangat ramah walau bertampang seram hehehe.

Setelah dari Ende, saya melanjutkan perjalan ke Riung, Ngada dengan bus Damri, naiknya bisa dari terminal atau di pinggir jalan pusat kota Ende, biaya hanya 50.000 pada saat itu (tahun 2021). Perjalanan dari Ende ke Riung kalo berdasarkan google map hanya 3 jam tapi kenyataannya total perjalanan 5 jam lebih hehehe. 

Pemandangan sepanjang perjalanan Ende - Riung sangat indah, sisi jalan pantai semua lalu perbukitan, cantik luar biasa dan penduduk lokal pun sangat ramah. Tapi lucunya di dalam bus penumpangnya ga hanya manusia tapi ada ayam, kambing, kasur dll. seperti orang mau pindahan hahaha.


Salah satu angkutan umum di Ende

Pantai di Ende berpasir hitam tapi masih cantik

Taman Bung Karno





Minggu, 12 Juni 2022

Solo Trip keliling NTT (PulauTimor Kupang, Pulau Sumba dan Pulau Flores)

Perjalanan solo trip ke NTT saat itu awal Juli 2021 dimana pemerintah tiba-tiba memberlakukan PPKM hampir ke seluruh Indonesia, sebenarnya ga solo trip banget sih, karna sesampai di Kupang jumpa travel mate yang kenal lewat aplikasi Couchsurfing. Perjalanan kita dimulai dari Kupang sampai berakhir di Labuan Bajo, total 27 hari, sebulan kurang 4 hari.

KUPANG

Dari Palembang transit Jakarta lalu lanjut ke Kupang esok harinya. Kita sudah sewa motor via online, motor diantar langsung di bandara El Tari Kupang, dengan jaminan KTP dan plus biaya masuk parkir bandara.

Di Kupang hanya 2 hari 1 malam, sesampai di penginapan, langsung check in. Ga banyak yang dikunjungi di Kupang, selama 2 hari kita ke Goa Kristal sekitar 1 jam lebih dari pusatkota Kupang, Kuliner Malam sea food di Kampung Solor dan ke esokan harinya ke bukit cinta sekalian satu arah ke bandara.

Biaya-Biaya di Kupang:

  • Sewa Motor Rp 85.000 + parkir Rp 3.000
  • Hotel include sarapan Rp 120.000
  • Tiket masuk goa kristal Rp 5.000
  • Parkir Goa Kristal Rp 2.000
  • sewa lampu masuk goa dibagi 4 karna join sama youtuber lokal Kupang  Rp 100.000/4 Rp 25.000/orang
  • (Biaya2 di atas gambaran biaya secara umum ya, kalo biaya pribadi seperti makan rata2 harganya 15rb an dan air mineral standar sama kayak di daerah lain harganya).
Keesokannya kita terbang ke Sumba mendarat di bandara Waingpung Sumba Timur (tiket pesawat lebih murah turun di sini dari pada di Tambaloka).

Saat itu genose masih berlaku, baru besoknya genose distop karna kasus covid naik dan langsung PPKM.


SUMBA

Di Pulau cantik nan eksotik ini kita stay 6  hari 5 malam, sesampai di bandara mau menuju ke hotel kita naek ojek, di bandara banyak yang nawari sewa motor, mobil, ditawar saja, bila perlu adu urat atau nawarnya ala emak2 pake pura2 ditinggal juga bisa hehe. dari Waingpung Sumba Timur kita move ke Sumba Barat Daya dengan menyewa mobil 2 hari (Biaya sewa mobil Rp 750.000 perhari include sopir dan bensin), dan menginap semalam di SBD.

Di Sumba Barat Daya Kita Eksplor:

  • Desa Adat Pra Ijing (Tiket Masuk Rp 25.000 peorang)
  • Weekacura Waterfall (Bayar pqrkir mobil saja Rp 20.000)
  • Sempat berburu vaksin dulu di puskesmas SBD tapi gagal karna sudah kesorean , trus lanjut ke Bukit Lendongara, tempatnya asik buat hunting sunset dan joget ala2 Indiahe  (Gratis dan ga ada biaya parkir)
  • Desa Adat dan Pantai Rantenggaro (Seharusnya untuk wisatawanuar NTT kena Rp 25.000 perorang, tapi karna waktu ditanya dari mana, dengan polosnya jawab dari Sumba Timur jadi bayqrnyq hanya Rp 10.000 hehe)
  • Pantai Pero (gratis)
  • Pantai Mandorak (Biaya parkir+ masuk digabung Rp 50.000 permobil)
  • Laguna Waikuri (Biaya Parkir Rp 5.000)
  • Hunting sunset di Bukit Warinding (Biaya parkir sukarela, rata2 orang kasih Rp 10.000)

Di Sumba Timur kita eksplore pakai motor, sewa selama 2 hari (Biaya sewa motor Rp 150.000 perhari).

Keesokan kita harus vaksin dulu, habis setengah hari hanya buat cari vaksin doang, habis waktu kita, gara2 syarat mau menyebrang naik Ferry harus sudah vaksin 1, sementara itu Sumba pulau jauh di timur sana, otomatis vaksin ga sebanyak di pulau Jawa ya kannn.. lelah kita dibuat aturan PPKM . Dan semua penerbangan ditutup, dan masih beruntungnya kita pas mau menyebrang itu adalah hari terakhir sebelum aturan ditutupnya seluruh akses penyebrangan di NTT, kalo terjebak ga bisa keluar di Sumba, ngapain aj coba sebulan di sana, mana serba mahal yaa kann.

Dengan Bermodal Sewa Motor Dan Google Map Kita Eksplor:

  • Purukambera, lokasi syuting film Marlina, hampir 2 jam perjalanan ke sini dari penginapan, foto2 di jalanan yang cakep di keliling ilang2 yang mengering, eksotik banget kamu Sumbaaaa dan masuk ke pantai tanpa penghuni, berpasir putih yang cantiknyaaa (gratis, bebas masuk)
  • Air terjun Waimarang, 2 jam dari penginapan (gratis karna ga ada yang jaga )
  • Pantai Walakiri hunting sunset (gratis ga ada yang jaga juga).

Dan besok subuh, kita segera menyebrang ke Ende dengan kapal Ferry, tiket kita sudah beli via online Rp 77.000 (kalo beli langsung dari website pelni lebih murah tapi suka cepat habis), dan ternyata kalo beli online tiket harus diprint dulu di loket pelni (dikirain bisa scan, lupa kalo di Sumba masih terbatas fasilitasnya ), untung abang2 petugas pelninya baik, ditungguin, dicariin ojek buat ngeprint tiket, karna lokasinya jauh dan pelabuhan, biaya ojek kena Rp 50.000 (biaya tak terduga slalu ada ).

Selama di Sumba kita ga stay di resort ya, tapi hotel di Sumba sepi dikarenakan pandemik, jadi harganya turun plus dibantu promo traveloka pula, rata2 di bawah 250rb an (travel mate yang booking, saya terima beres hehehe)

Untuk makan berkisar 15.000 ke atas, air mineral sama seperti di daerah lain kurleb. Tapi gorengan masih 1.000/biji, gede2 lagi hehehe.

Penyebrangan dari Waingpung ke Ende memakan waktu 9 jam, dan kapal menyebrang ke Ende ga tiap hari ada, dicek aj jadwalnya di web Pelni.

 Bersambung...

Kapal Ferry dari Waingpung, Sumba Ke Ende

 


 

Rabu, 18 Mei 2022

Pulau Sumba, Pulau Nan Eksotik di Timur Indonesia

 

Pulau Sumba lebih luas dari pulau Bali, luasnya 10.710 km². Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di Timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah Selatan dan Barat.

Bandara Waingapu Sumba Timur

Perjalanan di Pulau Sumba dimulai dari Sumba Timur, sebaiknya dari Sumba Barat Daya biar ga bolak balik, dari timur ke barat lalu balik lagi ke timur. Selama 5 hari 4 malam di Pulau Sumba. Di awali dari Kupang ke Waingapu Sumba Timur, menginap semalam di Waingapu lalu besok pagi lanjut perjalanan ke Sumba Barat Daya. Dari Sumba Timur ke SBD ditempuh sekitar 4-5 jam.

Perjalanan Sumba Timur ke SBD

Ada beberapa tempat wisata yang dikunjungi di SBD, seperti Desa Adat Prai ijing, Weekacura Waterfall, Desa Adat dan Pantai Ratenggaro, Pantai Pero, Pantai Mandorak, dan Bukit Lendongara. Sebenarnya masih banyak spot wisata yang bisa dikunjungi di SBD tapi karna keterbatasan waktu dan tersita karna sibuk mencari vaksin juga hehehe. Semua itu bisa dikelilingi selama 2 hari 1 malam, hari kedua sorenya langsung kembali ke Sumba Timur untuk mengejar sunset di Bukit Wairinding, di bukit ini sangat terkenal sunsetnya yang eksotik apalagi bukitnya lagi musim kering, jadi tambah eksotik.

Desa Adat Prai Ijing Sumba Barat

Setelah sampai di Sumba Timur lagi, masih disibukan dengan urusan mengejar vaksin (kisah mengejar vaksin di Sumba bisa dibaca disini https://www.blogger.com/blog/post/edit/preview/5858054246697909608/5141581101319660510 dan untungnya dapat dengan cepat, sehingga bisa langsung eksplore Sumba Timur. Tempat wisata di Sumba Timur yang bisa dieksplore selain Bukit Wairinding, ada banyak seperti, Purukambera tempat syutingnya film Marlina, sepanjang jalan vibesnya seperti di Kenya, gersang dan banyak kuda atau sapi, cantik banget! Pantai Walakiri yang biasa jadi tempat hunting sunset oleh para fotograper dan Air Terjun Waimarang. 

Pantai Purukambera Sumba Timur

Dan keesokan harinya tepatnya jam 5 pagi langsung ke pelabuhan Waingapu untuk menyebrang ke Ende. Penyebrangan ke Ende dari Waingapu tidak setiap hari, kapal hanya ada 3 kali dalam seminggu, harga tiket sekitar 65 ribu rupiah, bisa dicek di aplikasi atau web Pelni.

 

 

Selasa, 17 Mei 2022

Ramah Tamah Masyarakat Nusa Tenggara Timur

Di NTT, mulai dari Pulau Timor, Sumba dan Flores mempunyai bahasa daerah yang berbeda2, apalagi di Flores, di Moni beda dengan Ende, Mbay beda dengan Riung, Bajawa, Ruteng sampe ke Bajo semua mempunyai bahasa daerah masing2.

Tapi, masyarakatnya semua lancar berbahasa Indonesia, mulai dari anak kecil hingga yang sudah sepuh, mau di kampung adat di atas bukit atau di kotanya semua pandai berbahasa Indonesia.
Di Jawa orang yang ga bisa bahasa Indonesia banyak loh, di Palembang coret pun masih ada yang ga bisa bahasa Indonesia, apalagi di daerah pedalaman Sumatera.
Dari semua foto penduduk lokal gw ajak ngobrol semua pakai bahasa Indonesia. Sempat ngobrol dengan Bapak2 di Kampung adat Bela Bajawa, beliau tanya asal gw dari mana, gw jawab Sumatera. Ouh Sumatera, banyak orang Sumatera di Jerman (widih dalam hati gw, kayaknya pernah ke Jerman nih Bapak), ouh kalo di Jerman biasanya kebanyakan orang Batak Pak, kalo saya orang Palembang (padahal Lahat ye wkwkwkk). Oh iya orang Batak banyak di Jerman
katanya.
Usut punya usut ternyata tahun 2019 si Bapak ini pernah ke Jerman diajak salah satu bule yang pernah berkunjung ke Kampung adat Bela Bajawa. Si bule Jerman ini mendanai pengobatan anak si bapak yang mengalami kelainan pada kaki. Semua ditanggung oleh bule Jerman tsb. Warbiyasa ya kebaikan turis asing.
Gw suka orang lokal di NTT kecuali anak2 di Kampung adat Rantenggaro Sumba Barat Daya, Ya Allah ngeselin nyebelin, matre banget, udah gw kasih duit masih aj celamitan, beda banget sama anak2 penduduk lokal di tempat lainnya, kalem, manis dan sopan.
 
 

Penduduk Kampung Bela Bajawa
Penduduk lokal Sumba Timur NTT

Penduduk Lokal Riung NTT


Anak-anak di Desa Wae Rebo Ruteng NTT


 
 
 

Trekking ke Big Almaty Lake dan Shymbulak Peak Tanpa Ikut Tur

Kota Almaty sunggulah sangat luas, kota terbesar di Kazakhstan. Dengan dikelilingi gunung bersalju membuat kota Almaty sangat cantik dan tre...