Perjalanan solo trip ke NTT saat itu awal
Juli 2021 dimana pemerintah tiba-tiba memberlakukan PPKM hampir ke seluruh
Indonesia, sebenarnya ga solo trip banget sih, karna sesampai di Kupang
jumpa travel mate yang kenal lewat aplikasi Couchsurfing. Perjalanan
kita dimulai dari Kupang sampai berakhir di Labuan Bajo, total 27 hari,
sebulan kurang 4 hari.
KUPANG
Dari Palembang transit Jakarta lalu lanjut
ke Kupang esok harinya. Kita sudah sewa motor via online, motor diantar
langsung di bandara El Tari Kupang, dengan jaminan KTP dan plus biaya
masuk parkir bandara.
Di Kupang hanya 2 hari 1 malam,
sesampai di penginapan, langsung check in. Ga banyak yang dikunjungi di
Kupang, selama 2 hari kita ke Goa Kristal sekitar 1 jam lebih dari
pusatkota Kupang, Kuliner Malam sea food di Kampung Solor dan ke esokan
harinya ke bukit cinta sekalian satu arah ke bandara.
Biaya-Biaya di Kupang:
- Sewa Motor Rp 85.000 + parkir Rp 3.000
- Hotel include sarapan Rp 120.000
- Tiket masuk goa kristal Rp 5.000
- Parkir Goa Kristal Rp 2.000
- sewa lampu masuk goa dibagi 4 karna join sama youtuber lokal Kupang Rp 100.000/4 Rp 25.000/orang
- (Biaya2 di atas gambaran biaya secara umum ya, kalo biaya pribadi seperti makan rata2 harganya 15rb an dan air mineral standar sama kayak di daerah lain harganya).
Saat itu genose masih berlaku, baru besoknya genose distop karna kasus covid naik dan langsung PPKM.
SUMBA
Di Pulau cantik nan eksotik ini kita stay
6 hari 5 malam, sesampai di bandara mau menuju ke hotel kita naek ojek,
di bandara banyak yang nawari sewa motor, mobil, ditawar saja, bila
perlu adu urat atau nawarnya ala emak2 pake pura2 ditinggal juga bisa
hehe. dari Waingpung Sumba Timur kita move ke Sumba Barat Daya dengan
menyewa mobil 2 hari (Biaya sewa mobil Rp 750.000 perhari include sopir
dan bensin), dan menginap semalam di SBD.
Di Sumba Barat Daya Kita Eksplor:
- Desa Adat Pra Ijing (Tiket Masuk Rp 25.000 peorang)
- Weekacura Waterfall (Bayar pqrkir mobil saja Rp 20.000)
- Sempat berburu vaksin dulu di puskesmas SBD tapi gagal karna sudah kesorean , trus lanjut ke Bukit Lendongara, tempatnya asik buat hunting sunset dan joget ala2 Indiahe (Gratis dan ga ada biaya parkir)
- Desa Adat dan Pantai Rantenggaro (Seharusnya untuk wisatawanuar NTT kena Rp 25.000 perorang, tapi karna waktu ditanya dari mana, dengan polosnya jawab dari Sumba Timur jadi bayqrnyq hanya Rp 10.000 hehe)
- Pantai Pero (gratis)
- Pantai Mandorak (Biaya parkir+ masuk digabung Rp 50.000 permobil)
- Laguna Waikuri (Biaya Parkir Rp 5.000)
- Hunting sunset di Bukit Warinding (Biaya parkir sukarela, rata2 orang kasih Rp 10.000)
Di Sumba Timur kita eksplore pakai motor, sewa selama 2 hari (Biaya sewa motor Rp 150.000 perhari).
Keesokan kita harus vaksin dulu, habis setengah hari hanya buat cari vaksin doang, habis waktu kita, gara2 syarat mau menyebrang naik Ferry harus sudah vaksin 1, sementara itu Sumba pulau jauh di timur sana, otomatis vaksin ga sebanyak di pulau Jawa ya kannn.. lelah kita dibuat aturan PPKM . Dan semua penerbangan ditutup, dan masih beruntungnya kita pas mau menyebrang itu adalah hari terakhir sebelum aturan ditutupnya seluruh akses penyebrangan di NTT, kalo terjebak ga bisa keluar di Sumba, ngapain aj coba sebulan di sana, mana serba mahal yaa kann.
Dengan Bermodal Sewa Motor Dan Google Map Kita Eksplor:
- Purukambera, lokasi syuting film Marlina, hampir 2 jam perjalanan ke sini dari penginapan, foto2 di jalanan yang cakep di keliling ilang2 yang mengering, eksotik banget kamu Sumbaaaa dan masuk ke pantai tanpa penghuni, berpasir putih yang cantiknyaaa (gratis, bebas masuk)
- Air terjun Waimarang, 2 jam dari penginapan (gratis karna ga ada yang jaga )
- Pantai Walakiri hunting sunset (gratis ga ada yang jaga juga).
Dan besok subuh, kita segera menyebrang ke Ende dengan kapal Ferry, tiket kita sudah beli via online Rp 77.000 (kalo beli langsung dari website pelni lebih murah tapi suka cepat habis), dan ternyata kalo beli online tiket harus diprint dulu di loket pelni (dikirain bisa scan, lupa kalo di Sumba masih terbatas fasilitasnya ), untung abang2 petugas pelninya baik, ditungguin, dicariin ojek buat ngeprint tiket, karna lokasinya jauh dan pelabuhan, biaya ojek kena Rp 50.000 (biaya tak terduga slalu ada ).
Selama di Sumba kita ga stay di resort ya, tapi hotel di Sumba sepi dikarenakan pandemik, jadi harganya turun plus dibantu promo traveloka pula, rata2 di bawah 250rb an (travel mate yang booking, saya terima beres hehehe)
Untuk makan berkisar 15.000 ke atas, air
mineral sama seperti di daerah lain kurleb. Tapi gorengan masih
1.000/biji, gede2 lagi hehehe.
Penyebrangan dari Waingpung ke Ende
memakan waktu 9 jam, dan kapal menyebrang ke Ende ga tiap hari ada, dicek
aj jadwalnya di web Pelni.
Bersambung...
![]() |
| Kapal Ferry dari Waingpung, Sumba Ke Ende |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar