Setelah dari Bajawa kita mampir sebentar di Aimere melihat produksi rumahan Moke arak lokal khas Flores. Moke ini bahan baku utamanya adalah buah Lontar, maka tidak aneh kalo sepanjang jalan akan mudah ditemukan pohon lontar dimana-mana.
Kita hanya mampir sebentar lalu melanjutkan perjalanan ke Ruteng, tapi sungguh di luar dugaan kita mengalami kecelakaan kecil, motor tergelincir karna jalan licin akibat oli, tapi semua baik-baik saja, hanya saya yang terluka di bagian lutut dan lengan sementara guide saya tidak terjadi apa pun.. mengsedih plus apes sekali diriku hehehe.
Jalanan Flores yang berliku-liku terkadang cukup membuat pusing tapi pemandangannya tidak diragukan lagi sungguh sangatlah indah di mata, dan terkadang hujan lebat, kabut tebal serasa berjalan di atas awan, sangatlah cantik alam Flores. Setelah mau memasuki perjalanan ke Desa Denge medan jalannya sungguhlah sangat jelek, disaran untuk berhati-hati.
Sekitar perjalanan 10 jam akhirnya kita sampai di Desa Denge Ruteng, kita menginap semalam di home stay pemiliknya bapak Blasius, beliau adalah seorang guru yang kali pertama mengenalkan Desa Adat Wae Rebo ke dunia luar. Beliau bercerita turis pertama yang singgah ke Desa Wae Rebo adalah turis dari Perancis (seingat saya hehe). Biaya menginap semalam sekitar Rp 200.000 sudah termasuk sarapan pada saat itu, sepi hanya saya seorang karna masih suasana pandemik.
![]() |
| View saat perjalanan dari Ruteng ke desa Wae Rebo |
Keesokan pagi sekitar pukul 6 pagi kita sudah memulai trekking ke Desa Wae Rebo, dari penginapan kita ke post 1 dengan motor. Dari post 1 sampai ke atas Desa Wae Rebo perjalanan sekitar 2 jam kurang tergantung kecepatan kita berjalan. Medan jalur trekking sangat mudah dan tidak terlalu sulit, sepanjang perjalanan banyak pohon kopi dan kita akan melihat hamparan laut juga, pokoknya dipastikan sangat indah, lelah pun terbayarkan.
![]() | |||||
| Minum kopi Flores di Desa Adat Wae Rebo | |
Ketika rumah khas Desa Wae Rebo sudah terlihat jelas dari atas, kita disarankan untuk mengetuk pentungan atau apa namanya sebagai pertanda bahwa ada tamu datang. Saat menuju memasuki Desa Wae Rebo disarankan untuk tidak merekam atau ambil foto terlebih dahulu bisa dilakukan nanti, sesampai disana kita akan menghadap ke Kepala Adat Desa Wae Rebo sebagai penghormatan lalu kita akan langsung melakukan pembayaran untuk kepala adat/atau iuran apa agak lupa sekitar Rp 50.000 dan biaya penginapan sekitar Rp200.000 sudah termasuk sarapan dan plus kopi khas Flores yang sangat sedap sekali. Oh ya untuk guide saya semua gratis tidak ada biaya tambahan dari pihak desa Wae Rebo.
Ekspresi ketika melihat Desa Wae Rebo untuk kali pertama seperti mimpi, sungguh sangat cantik, warganya pun sangat ramah, sungguh beruntung Indonesia memiliki keberagaman budaya, desa adat, alam, kuliner dll. Sampai sekarang pun masih terus mengagumin keindahan Desa Wae Rebo, desa yang cantik di atas awan.
Total pengeluaran ke Desa Adat Wae Rebo, dari Bajawa ke Labuan Bajo:
- Sewa motor plus giude Rp 600.000
- Home stay di Desa Denge Rp 200.00
- Desa Wae Rebo Rp 250.000
- Sewa stick Rp 10.000 optional, awalnya dikira gratis hehe
- Parkir motor di post 1 Rp 20.000
- Makan sepanjang perjalanan termasuk buat guide semua tentatip tergantung yang dimakan hehe
Total sekitar Rp 1.080.000 belum termasuk biaya makan di perjalanan, bensin tanggung jawab guide.
![]() | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jalur trekking ke Desa Wae Rebo | |
| View Sepanjang perjalanan dari Desa Wae Rebo ke Labuan Bajo |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar