Rabu, 18 Mei 2022

Pulau Sumba, Pulau Nan Eksotik di Timur Indonesia

 

Pulau Sumba lebih luas dari pulau Bali, luasnya 10.710 km². Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di Timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah Selatan dan Barat.

Bandara Waingapu Sumba Timur

Perjalanan di Pulau Sumba dimulai dari Sumba Timur, sebaiknya dari Sumba Barat Daya biar ga bolak balik, dari timur ke barat lalu balik lagi ke timur. Selama 5 hari 4 malam di Pulau Sumba. Di awali dari Kupang ke Waingapu Sumba Timur, menginap semalam di Waingapu lalu besok pagi lanjut perjalanan ke Sumba Barat Daya. Dari Sumba Timur ke SBD ditempuh sekitar 4-5 jam.

Perjalanan Sumba Timur ke SBD

Ada beberapa tempat wisata yang dikunjungi di SBD, seperti Desa Adat Prai ijing, Weekacura Waterfall, Desa Adat dan Pantai Ratenggaro, Pantai Pero, Pantai Mandorak, dan Bukit Lendongara. Sebenarnya masih banyak spot wisata yang bisa dikunjungi di SBD tapi karna keterbatasan waktu dan tersita karna sibuk mencari vaksin juga hehehe. Semua itu bisa dikelilingi selama 2 hari 1 malam, hari kedua sorenya langsung kembali ke Sumba Timur untuk mengejar sunset di Bukit Wairinding, di bukit ini sangat terkenal sunsetnya yang eksotik apalagi bukitnya lagi musim kering, jadi tambah eksotik.

Desa Adat Prai Ijing Sumba Barat

Setelah sampai di Sumba Timur lagi, masih disibukan dengan urusan mengejar vaksin (kisah mengejar vaksin di Sumba bisa dibaca disini https://www.blogger.com/blog/post/edit/preview/5858054246697909608/5141581101319660510 dan untungnya dapat dengan cepat, sehingga bisa langsung eksplore Sumba Timur. Tempat wisata di Sumba Timur yang bisa dieksplore selain Bukit Wairinding, ada banyak seperti, Purukambera tempat syutingnya film Marlina, sepanjang jalan vibesnya seperti di Kenya, gersang dan banyak kuda atau sapi, cantik banget! Pantai Walakiri yang biasa jadi tempat hunting sunset oleh para fotograper dan Air Terjun Waimarang. 

Pantai Purukambera Sumba Timur

Dan keesokan harinya tepatnya jam 5 pagi langsung ke pelabuhan Waingapu untuk menyebrang ke Ende. Penyebrangan ke Ende dari Waingapu tidak setiap hari, kapal hanya ada 3 kali dalam seminggu, harga tiket sekitar 65 ribu rupiah, bisa dicek di aplikasi atau web Pelni.

 

 

Selasa, 17 Mei 2022

Ramah Tamah Masyarakat Nusa Tenggara Timur

Di NTT, mulai dari Pulau Timor, Sumba dan Flores mempunyai bahasa daerah yang berbeda2, apalagi di Flores, di Moni beda dengan Ende, Mbay beda dengan Riung, Bajawa, Ruteng sampe ke Bajo semua mempunyai bahasa daerah masing2.

Tapi, masyarakatnya semua lancar berbahasa Indonesia, mulai dari anak kecil hingga yang sudah sepuh, mau di kampung adat di atas bukit atau di kotanya semua pandai berbahasa Indonesia.
Di Jawa orang yang ga bisa bahasa Indonesia banyak loh, di Palembang coret pun masih ada yang ga bisa bahasa Indonesia, apalagi di daerah pedalaman Sumatera.
Dari semua foto penduduk lokal gw ajak ngobrol semua pakai bahasa Indonesia. Sempat ngobrol dengan Bapak2 di Kampung adat Bela Bajawa, beliau tanya asal gw dari mana, gw jawab Sumatera. Ouh Sumatera, banyak orang Sumatera di Jerman (widih dalam hati gw, kayaknya pernah ke Jerman nih Bapak), ouh kalo di Jerman biasanya kebanyakan orang Batak Pak, kalo saya orang Palembang (padahal Lahat ye wkwkwkk). Oh iya orang Batak banyak di Jerman
katanya.
Usut punya usut ternyata tahun 2019 si Bapak ini pernah ke Jerman diajak salah satu bule yang pernah berkunjung ke Kampung adat Bela Bajawa. Si bule Jerman ini mendanai pengobatan anak si bapak yang mengalami kelainan pada kaki. Semua ditanggung oleh bule Jerman tsb. Warbiyasa ya kebaikan turis asing.
Gw suka orang lokal di NTT kecuali anak2 di Kampung adat Rantenggaro Sumba Barat Daya, Ya Allah ngeselin nyebelin, matre banget, udah gw kasih duit masih aj celamitan, beda banget sama anak2 penduduk lokal di tempat lainnya, kalem, manis dan sopan.
 
 

Penduduk Kampung Bela Bajawa
Penduduk lokal Sumba Timur NTT

Penduduk Lokal Riung NTT


Anak-anak di Desa Wae Rebo Ruteng NTT


 
 
 

Senin, 16 Agustus 2021

Berburu Vaksin di Pulau Sumba


Saat hari pertama bertandang tanggal 2 Juli 2021 ke Pulau Sumba awalnya belum ada aturan PPKM, tapi tiba esoknya keluar regulasi baru PPKM karena kasus covid di Pulau Jawa dan Bali meningkat. Sehingga dikeluarkannya regulasi PPKM yang dimana syarat penerbangan atau penyeberangan diharuskan ada kartu vaksin minimal dosis pertama dan beserta hasil tes Swab Antigen negatif.

Dan dengan terpaksa berburu vaksin di tanah Sumba, hari kedua mencoba vaksin di Sumba Barat Daya tapi kurang beruntung karena Puskesmas setempat tutup dan besok hari libur, jadi terpaksa berburu vaksin di Sumba Timur, Dimana tempat terakhir eksplore tanah Sumba.

Setelah di Sumba Timur, atang langsung ke Dinas Kesehatan, ramenya yang daftar suntik vaksin, cus minta formulir trus isi data dan berada ditumpukan paling bawah antriannya wkwkwkwk. Tunggu ku menunggu mikir ini bisa 2 hari baru dapet giliran vaksin kalo tumpukan kertas pendaftaran udah segunung.

Lalu gw dekati abang petugas Dinkes yang hitam manis seperti kopi Flores, "eehmm abang, saya ada penerbangan nanti jam 2 siang, bisa suh nama saya dipanggil dulu kah?", aahh ada penerbangan kah, jam 2 siang? Masih lama. Nanti tunggu lagi sebentar kata si abang manis seperti kopi Flores tadi (sekali lagi walau muka ganas tapi tetap lemah lembut abangnya euy hahaha)

Penasaran belum berhasil gw deketin lagi " abang, sini saya cari formulir saya dulu sebentar (maksa tapi teteup sopan). Silahkan katanya nyuruh nyari. Cek ricek akhirnya dapet juga. Tunggu nanti saya panggil kata abangnya. Yesss berhasil dalem hati gw, seling satu nama, giliran nama gw dipanggil, masuk cusss langsung suntik.

Setelah suntik vaksin cobaan antri bukan itu saja, masih nunggu sertifikatnya lebih lamaaaaaa, ribetnya birokrasi pemerintah daerah dan ditambah lemotnya Internet (dimaklumi saja jauh di pulau Sumba timur Indonesia sana). Lalu pulang nanti di sms buat ambil sertifikat... capeee dehhh.

Lanjutan drama suntik vaksin, ujug2 jam 2 balik ke Dinkes, sedikit merapat mendekati abang TNI kodim yang sibuk menjaga dan mengatur jalannya vaksin, "eehh Pak, saya mau ambil sertifikat vaksin dimana ya pak? Tadi pagi kita sudah vaksin", masuk saja ke dalam, coba tanya sudah ada belum katanya... hadewww lagi.

Masuk ke dalam, gw dekati bu dokter yang dari pagi masih sibuk dengan jaringan internet gw perhatikan wkwkwk, "eehh permisi mama dokter, kita mau ambil sertifikat vaksin, besok kita ada penerbangan". aahh mau ada penerbangan kahhh, sebentar dari tadi ini internet masih error, sabar ya kata mama dokter. Ya Allah sampe kapan dalam hati gw ga kelar2.

Gw lagi asik merayu mama dokter tiba-tiba ada abang hitam manis kopi Flores yang tadi pagi gw dekati, "suh belum terbang kah? Masih menunggu sertifikat kah?, Belum bang.. penerbangan kita delay besok pagi (hebat bener delay sampe pagi.. bohong banget hahaha). Ya sudah nanti saya kirim ke WA, tunggu saja ya katanya. Wahh makasih abang ganteng manis kali, senyum2 aj dia wkwkwkwk. Abang manis penyelamat kita.

Langsung kita cussss ke Purukambera, tempat syuting film Marlina, tenang sertifikasi vaksin sudah terkirim.

Saat Suntik Vaksin di Dinkes Waingapu Sumba Timur


 

 

27 Hari di Tanah Timur Indonesia, Nusa Tenggara Timur

Kalau berdasarkan planning sebenarnya hanya 2 minggu keliling NTT. Tapi, dikarenakan perjalanan saat pandemik dan kasus di Pulau Jawa dan Bali meningkat dan lalu keluar lah regulasi PPKM yang berlevel-level ya jadinya menambah hari di NTT, khususnya di Labuan Bajo tempat terakhir terdampar dan budget pun berkembang selama di NTT tapi masih worth it sih, sesuai apa yang disuguhkan segala keindahan di NTT.

Mari gw mulai cerita perjalanan pertama di Pulau Timur yaitu Kupang, yang merupakan ibu kota NTT. Awal perjalanan ke Kupang lancar tanpa hambatan, hati masih tenang belum ada peraturan ini itu yang bikin pusing wkwkwk.

Dua Hari Satu Malam di Kupang Pulau Timur Indonesia

Penerbangan dari Jakarta - Kupang transit sebentar di Surabaya, total jam terbang sekitar 3.5 jam lebih di luar jam transit di Surabya, sungguh perjalanan yang melelahkan hahaha. Sesampai di Kupang sekitar jam 11 siang dan lanjut eksplore kot Kupang.

Sebenarnya banyak tempat ingin dikunjungi di Kupang yang merupakan ibu kota Nusa Tenggara Timur. Bahkan, berniat ingin mampir ke negara tetangga Timor Leste yang berbatasan dengan Atambua, 9 jam dari Kupang trus 2 jam dari Atambua. Selain itu ingin mampir ke pulau Rote tapi mikir sungguh melelahkan sekali perjalanan seorang diri mengelilingi luasnya NTT. Akhir semua itu dilewati, jadi hanya ke beberapa tempat di Kupang, setelah itu baru lanjut ke Pulau Sumba. Sebelumnya sudah pesan sewa motor di bandara, harganya hanya 75 ribu untuk 24 jam. Dikembalikannya di bandara juga, hanya KTP ditahan sebagai jaminan.

Bandara El Tari, Kupang NTT

Gua Kristal 

Sesampai di Kupang setelah check in langsung ke Gua Kristal. Jarak tempuh dari pusat kota Kupang ke Gua Kristal tidak sampai 1 jam dengan sepeda motor sekali jalan, cukup dengan google map sudah pasti ketemu tempatnya, ada plang tulisan Gua Kristal. Lokasinya masih harus jalan ke dalam, nanti ada guide atau orang yang punya tempat/lahan tsb. Biaya masuk hanya 5 ribu, tapi ada jasa guide plus sewa lampu untuk masuk ke dalam gua, bayar 100 ribu rupiah bisa untuk grup, dan kalo solo tripsungguh sangat berat biayanya hehehe.

Gua Kristal, Kupang NTT

Kulineran Sea Food di Kampung Solor

Malamnya sekitar pukul 8 malam kulineran di pusat sea food di Kampung Solor kota Kupang. Banyak aneka sea food dijual di Kampung Solor dan harganya pun relatif murah dan rasanya juga enak. Patut dicoba kalo di Kupang.

Ke esokan harinya check out hotel, dan lanjut penerbangan ke Sumba pukul 3 sore nanti. Sembari menunggu penerbangan sempatkan ke Bukit Cinta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara, ya sekitar 30 menit dari Bandara El Tari Kupang. Lumayan buat fot-foto kenangan di Kupang hehehe. 

Kampung Solor, Kupang NTT      
                                                  
Bukit Cinta, Kupang NTT

Setelah puas kita langsung ke bandara dan karena di masa pandemic syarat penerbangan diharuskan tes SWAB atau Gen nose yang lebih mudah dan murah. Tapi Alhamdulillah saat itu adalah hari terakhir bisa gen nose, keesokan langsung PPKM karena terjadi lonjakan kasus covid yang signifikan, otomatis peraturan atau persyaratan berubah diharuskan PCR dan sudah divaksin sebagai syarat melakukan berpergian via udara, sementara darat dan laut rapid antigen dan vaksin minimal satu dose. Sungguh melelahkan bepergian saat pandemic, regulasi yang slalu berubah yang membuat bingung. Yang paling sedih NTT langsung lockdown. Tidak ada penerbangan bahkan penyebrangan ke luar dari NTT.. oh well.




Trekking ke Big Almaty Lake dan Shymbulak Peak Tanpa Ikut Tur

Kota Almaty sunggulah sangat luas, kota terbesar di Kazakhstan. Dengan dikelilingi gunung bersalju membuat kota Almaty sangat cantik dan tre...